snsd yoona

snsd yoona

Friday, October 14, 2011

rubik ovin or caikers


Yeeeeyy!!!”

Alvin menutup telinganya. Ia mendecih sebal pada adik sepupunya itu. Ribut. Bukan salahnya kalau ia berada di sini sekarang, mendengarkan teriakan kencang adik sepupunya. Salahkan pamannya yang harus bekerja di luar kota, sehingga membuatnya harus berada di bawah perlindungan atap yang sama dengan adik sepupunya itu.

“Baka!”

Ia merebut kubus berwarna-warni yang sejak tadi diputar-putar tak tentu arah oleh sepupunya. Dan… oh, salahkan juga dirinya yang telah menghadiahkan sebuah benda berbentuk kubus dengan 6 warna berbeda di setiap sisinya, untuk sepupu terkasihnya itu. Membuat sepupunya asyik memutar-mutar benda itu, menyusunnya dengan warna yang tepat. Dan sesekali berteriak kencang saat berhasil menyusun satu dari enam warna yang ada. Satu. Hanya satu. Aneh.

“Kak, balikin..” rajuknya. Ia menggapai-gapai rubiknya yang direbut paksa Alvin.

Alvin memandang sepupunya itu dengan raut malas. Perlahan ia mengurangi jarak antara wajahnya dan wajah sepupunya. Gadis itu reflex. Dengan sekali gerakan, gadis itu memperjauh kembali jarak antara mereka. Tidak begitu berhasil. Punggungnya sudah menempel pada sofa dibelakangnya, menahan pergerakannya.

Alvin menyeringai melihat itu. “Oik-hime, lebih baik sekarang kau berhenti bermain rubik, dan naik ke ranjangmu. Ini sudah malam. Tugasku untuk besok, belum selesai. Dan, suaramu menggangguku,” Bisiknya tepat di telinga gadis itu.

Oik bergidik geli saat merasakan aroma mint menggelitik telinganya. Ia memalingkan wajahnya.

“I-itu…” Oik menunjuk rubiknya yang masih di genggaman Alvin. Masih berusaha mendapatkan rubiknya.

Alvin menyipitkan matanya, memandang sepupu terkasihnya dalam-dalam.

“Tidur…” ucap Alvin lagi, “…atau ku cium.” lanjutnya.

“Eh,” Gadis itu tergeragap. Hembusan hangat menerpa pipinya, menanggalkan rona kemerahan di pipi pucatnya. Serentak, ia bangkit dari duduknya. “I-iya… Aku tidur…”

“Hn,” Alvin tersenyum kecil. Ia menatap kepergian sepupunya. Setelah meletakkan rubik itu di meja di hadapannya,  ia kembali fokus pada laptopnya.

Belum semenit berkonsentrasi, sebuah suara pelan kembali mengganggunya. Ia menoleh ke sumber suara. Di sana, ia melihat Oik masih berdiri di depan kamar sambil menatap ke arahnya. Tatapan yang gugup.

“Kenapa lagi?”

“Um, Ano… itu…” Gadis itu tampak salah tingkah. Setelah menghembuskan napas, ia bergumam pelan “O-Oyasumi…” Setelah mengatakan itu, gadis itu menunduk lalu menutup pintu kamarnya perlahan.

Awalnya Alvin tercengang. Kemudian ia tersenyum lembut. Kali ini ia biarkan hatinya yang menguasainya. Ia menyimpan tugasnya sebelum menutup laptopnya. Setelah memandang sejenak pada pintu kamar Oik yang tertutup, perlahan ia melangkah ke sana. Dari celah bawah pintu, ia melihat lampu kamar yang sudah dimatikan.

Tanpa mengeluarkan suara, ia membuka pintu itu. Menatap sosok yang meringkuk di balik selimut. Terlihat samar karena penerangan yang kurang.

Alvin membiarkan pintu kamar terbuka, menjadikan cahaya ruang tengah sebagai penerangan di kamar gelap ini. Lalu ia berjalan menuju tempat tidur. Ia mendudukkan diri sejenak di pinggir kasur. Ia tahu, gadis itu belum tidur.

Alvin mengangkat tangannya. Dengan hangat ia menyingkirkan helai-helai poni yang menutupi kening gadis itu, membuat gadis itu membuka matanya.

Oik tertegun melihat tatapan itu. Bola matanya terkunci menatap satu titik fokus. Alvin.

“Oyasumi, Hime,” bisik Alvin. Setelah itu dengan lembut ia mengecup kening gadis itu.

Oik kembali tertegun. Ia sedikit bersyukur, temaram suasana kamarnya ini dapat menyamarkan pipi kemerahannya. Sehingga ia yakin, Alvin tak menyadari perubahan rona pipinya saat ini.

Alvin menyadari, sebuah perasaan sedang menguasainya saat ini. Setelah sebelumnya lama ia sembunyikan. Perlahan, otak jeniusnya mulai bekerja. Hingga satu rencana terpatri dikepalanya.

Alvin kembali memandang gadis itu “Besok aku akan mengajarimu bermain rubik,” bisiknya lagi. Seolah tak cukup, kini ia mengecup pucuk hidung gadis itu. Setelah mengacak lembut poni Oik, Alvin keluar meninggalkan kamar itu.

Oyasuminasai…


^^^


Oik melepas sepatunya dan berlari ke dalam rumah. Dari ruang tengah, ia mendapati Alvin duduk di ayunan kesayangannya, di samping gazebo. Oik melepas blazer putih gadingnya dan melemparnya dengan asal ke sofa. Setelah itu, ia melangkah lebar menuju ayunan. Ia langsung melompat duduk di samping Alvin.

“Kakak !” sapanya. Oik menarik napas, lalu menghembuskannya ke atas, membuat poninya berantakan. “Huh! Panas yah…” Gadis itu melonggarkan dasinya, lalu mengibas-ngibaskan ke wajahnya.

Alvin menatap sekilas pada gadis itu. Ia tersenyum kecil. Alvin mengulurkan tangannya, memberikan benda berbentuk kubus dengan enam warna teracak pada gadis itu. Oik menerimanya dan menatap rubik ditangannya. Rubik ini agak aneh. Memang, ukurannya 3x3, tapi Oik menemukan beberapa huruf yang juga teracak di sana.

“Kak, maksud huruf ini apa ? U ? I ? Lalu ini…” Oik menatap bingung.

Alvin menggaruk belakang kepalanya sekilas, mengalihkan pandangannya dari Gadis itu. Ia melirik Oik dengan ekor matanya. Gadis itu masih menatapnya.

“Susun rubik itu.” sahutnya.

Oik manggut-manggut. Lalu ia menatap Alvin.

“Caranya ?” tanya gadis itu.

Alvin menghela napas sejenak. Ia kembali menghadap gadis itu dan mulai mengajarinya.

“Pilih centernya dulu, jadikan warna satu dulu, kuning misalnya… Seperti ini… Kalau sudah jadi, letakkan di sebelah bawah… Begini… Lalu…”

Dengan kaku, tangan gadis itu mengikuti intruksi Alvin. Oik tak mengacuhkan lagi huruf-huruf aneh yang ada di sana. Sesekali Alvin membantu gadis itu. Terkadang, ia tertawa kecil melihat gadis itu menggaruk-garuk kepalanya.

“…Nah, kalau semua letak sudah sama, tapi masih ada yang terbalik, di susun seperti ini… “

Setelah mengulang tiga kali. Oik menyelesaikan permainan yang –menurutnya- melelahkan itu. Ia menatap puas pada rubik di tangannya yang kini sudah teratur. Memutar-mutar rubiknya. Ia mendadak terpaku saat melihat salah satu sisi rubik yang berwarna putih. Huruf-huruf acak yang dianggapnya aneh tadi, kini terangkai menjadi tiga kata singkat. Terbaca dari atas ke bawah. Menampilkan kalimat yang sarat makna.

Ia memandang Alvin. Awalnya Alvin tak menatapnya sama sekali, seolah tak mengacuhkan apa-apa. Setelah Oik menyikut perutnya, baru ia bereaksi. Ia menatap Oik dengan mata yang disipitkan. Kali ini, ganti Oik yang tak menatap Alvin. Oik mengalihkan fokusnya ke mana-mana. Asal tidak ke bening tajam itu.

“Bagaimana ?”

“A-apanya ?”

“Jawabannya ?”

“Umm… Boleh jawab ‘tidak’?”

“Sayangnya jawabannya harus ‘ya’ atau ‘mau’.”

“Lalu menurutmu, aku bisa apa ?”

Alvin mengembangkan senyumnya. Ia menghilangkan jarak dengan gadis itu, lalu berbisik ditelinganya.

“Sekarang kau milikku. Jangan berikan perhatianmu kepada siapapun kecuali aku. Perhatianmu hanya boleh untukku.”

“Eh, m…mana bisa begitu?”

“Sayangnya aku tidak menerima penolakan.” bisiknya lagi. Ia menyeringai melihat pipi kemerahan gadis itu.

Oik mengalihkan perhatiannya
“Um.. Tapi… kenapa ini ‘I LOV YOU’ ? Seharusnya kan ‘I LOVE YOU’ ?” protes gadis itu.

“Salahkan rubiknya dong. Kenapa ukurannya tidak muat,”

“Tapi kan aneh! ‘LOVE’ malah jadi ‘LOV’. ‘E’-nya ke mana? Aku jadi meragukan pernyataanmu,”

“Eh, kalau itu jangan kau ragukan lagi. Aku sungguh-sungguh. Yaa… Siapa suruh rubiknya hanya berukuran 3x3,”

“Kenapa tidak beli rubik yang ukurannya 4x4 !?”

Alvin sweatdrop.

^OWARI^
END
 by : izza syafinaz (yoza gitu loh)



Itu diaaa!!! Gimana ? Lagi-lagi aku kurang pede nge post nya...
Awalnya aku mau bikin maksimal sampe 1000 kata, biar kayak cerpen-cerpen beneran gitu.. yang bener-bener pendek, *pletak*
Akhirnya, malah lebih SEDIKIT dari rencana.. hehee.. :D
  Mohon maaf yang kena tag *tag asal* >
Keep Coment yahh.. Kritik saran ditampung..

Ada yang ndak ngerti endingnya ?? Ini dia maksudnya..

No comments:

Post a Comment